RADAR TULUNGAGUNG – Gerhana bulan total sudah usai memukai masyarakat bumi pada Senin dini hari tadi. Namun sepanjang September ini masih ada fenomena langit yang tak kalah menarik.
Bulan kesembilan ini menghadirkan serangkaian fenomena langit bulan September yang istimewa, mulai dari Gerhana Bulan Total yang memukau hingga pertemuan langka antarplanet dan gugusan bintang.
Para pengamat langit di seluruh negeri diundang untuk menyiapkan teleskop atau sekadar mendongak ke angkasa, karena banyak dari peristiwa ini dapat dinikmati langsung dengan mata telanjang.
Baca Juga: Fenomena Gerhana Bulan Memasuki Fase Awal, Begini Penjelasan Ilmiahnya
Selain Gerhana Bulan Total, fenomena langit bulan September 2025 juga diwarnai oleh fenomena menarik lainnya seperti konjungsi planet, okultasi bintang, hingga ekuinoks yang menandai perubahan musim.
Keistimewaan bulan ini juga diperkuat dengan adanya fase purnama yang dikenal sebagai Harvest Moon atau Corn Moon, yang kebetulan bertepatan dengan momen gerhana bulan.
Oleh karena itu, bulan September 2025 menjanjikan pengalaman astronomi yang kaya dan tak terlupakan bagi siapa saja yang ingin menyaksikan keindahan alam semesta dari Bumi.
Purnama Harvest Moon atau Corn Moon
Fase purnama di bulan September dikenal sebagai Harvest Moon atau Corn Moon. Pada tahun 2025, Corn Moon yang jatuh pada 7 September pukul 18.12 UTC (atau 8 September di zona waktu tertentu, seperti 2.12 p.m. EDT) ini juga merupakan salah satu dari dua gerhana bulan total yang terjadi di tahun 2025.
Istilah Harvest Moon diberikan karena fase bulan purnama ini merupakan yang paling dekat dengan titik balik musim gugur, dan secara tradisional memungkinkan para petani untuk bekerja hingga malam hari di bawah sinar bulan yang terang.
Konjungsi Superior Merkurius 13 September
Pada 13 September, planet Merkurius akan berada dalam posisi konjungsi superior. Ini berarti planet ini akan sejajar dengan Matahari dan Bumi, dengan Matahari tepat berada di tengah.
Pada momen ini, Merkurius tidak dapat diamati karena terlalu dekat dengan silau Matahari dan berada pada jarak terjauh dari Bumi, sekitar 1,38 AU.
Fenomena ini sekaligus menandai berakhirnya penampakan Merkurius di langit fajar, sebelum muncul kembali di langit senja beberapa minggu kemudian.
Okultasi Bulan Pleiades 12 September
Dini hari tanggal 12 September, Bulan akan melewati gugus bintang Pleiades, sehingga bintang-bintangnya untuk sementara waktu tertutup dari pandangan. Peristiwa ini akan berlangsung sekitar pukul 03.30 WIB hingga 05.50 WIB (20.30 GMT hingga 22.50 GMT).
Okultasi ini akan terlihat dari Afrika bagian utara, Eropa Timur, dan Asia Barat. Meskipun Indonesia mungkin tidak berada dalam zona okultasi penuh, pengamat di luar wilayah tersebut masih dapat melihat Bulan melewati dalam jarak dekat dengan Pleiades.
Venus, Bulan & Regulus; Okultasi Bulan Venus 19 September
Tanggal 19 September akan menjadi momen pertemuan tiga benda langit: Venus (magnitudo -3,9), Regulus (magnitudo 1,4), dan Bulan sabit, yang akan berkumpul di rasi bintang Leo.
Pertemuan langit ini dapat diamati di seluruh Bumi pada pagi hari dengan mata telanjang, atau menggunakan teleskop untuk mengamati fitur Venus dan Bulan lebih detail.
selain itu, antara pukul 17.34 WIB hingga 21.26 WIB (10.34 GMT hingga 14.26 GMT), Bulan akan melintas di depan Venus, sebuah okultasi bulan yang langka yang akan terlihat dari sebagian Afrika, Eropa, Rusia bagian barat, Kanada, Greenland, dan Asia.
Saturnus di Oposisi 21 September
Pada 21 September, Saturnus akan mencapai oposisi, menandai visibilitas terbaiknya tahun ini. Pada titik ini, Planet bercincin tersebut akan berada di seberang Matahari di langit, terbit saat Matahari terbenam, dan bersinar sepanjang malam pada titik paling terangnya, dengan magnitudo 0,6.
Para pengamat dapat mencari Saturnus di rasi bintang Pisces, di mana cahaya keemasannya yang konsisten akan mengungguli bintang-bintang di dekatnya.
Gerhana Matahari Sebagian 21 September
Tanggal 21 September juga akan menghadirkan suguhan ganda bagi para pengamat langit, dengan Gerhana Matahari Sebagian yang terjadi antara pukul 00.29 WIB dan 04.53 WIB (17.29 GMT dan 21.53 GMT). Pada peristiwa ini, Bulan akan melintas di depan Matahari, menutupi hingga 85,5 persen cakramnya.
Penting untuk diingat bahwa fenomena ini tidak dapat diamati dari wilayah Indonesia. Gerhana ini akan terlihat dari Australia, Selandia Baru, Antartika, dan Kepulauan Pasifik.
Selalu gunakan kacamata gerhana bersertifikat atau filter surya dan jangan pernah menatap Matahari langsung tanpa perlindungan yang tepat.
Ekuinoks September 23 September
Ekuinoks September akan terjadi pada 23 September pukul 01.20 WIB. Ini adalah momen ketika sumbu Bumi tidak miring ke arah maupun menjauhi Matahari. Akibatnya, siang dan malam di seluruh dunia memiliki durasi yang hampir sama, sekitar 12 jam.
Fenomena ini menandai awal musim gugur secara astronomis di Belahan Bumi Utara dan awal musim semi di Belahan Bumi Selatan. Pada momen ini, Matahari akan berada di rasi bintang Virgo.
Hujan Meteor Epsilon-Perseid 5-21 September
Langit pada bulan September ini juga akan dihiasi oleh fenomena hujan meteor Epsilon-Perseid. Hujan meteor tahunan ini aktif mulai 5 hingga 21 September, dengan puncaknya pada 9 September 2025.
Meskipun aktif di rasi bintang Perseus, hujan meteor ini tergolong redup, dengan hanya sekitar 5 meteor per jam pada saat puncaknya, dan berbeda dengan hujan meteor Perseid Agustus yang lebih terkenal.
Untuk menikmati berbagai fenomena langit bulan September ini, disarankan untuk mencari lokasi dengan langit cerah dan minim polusi cahaya. ****
Editor : Dharaka R. Perdana