JAKARTA - Jalur bus Surabaya–Trenggalek pernah menjadi salah satu rute paling “panas” dan kompetitif di Jawa Timur.
Pada era 1980-an hingga awal 2000-an, jalur ini menjadi ladang pertarungan puluhan perusahaan otobus (PO) legendaris yang berlomba menawarkan kecepatan, kenyamanan, hingga armada terbaik.
Tak kurang dari 44 PO bus Surabaya–Trenggalek tercatat pernah melayani rute ini, baik melalui Kertosono maupun Pare.
Data tersebut diulas kanal YouTube Jodi W Channel yang mengulas sejarah panjang bus antarkota dalam provinsi (AKDP).
Dari penelusuran arsip dan dokumentasi komunitas bus di Facebook, terungkap bagaimana jalur Surabaya–Trenggalek menjadi saksi kejayaan banyak PO besar yang kini tinggal kenangan.
Jalur Panas Surabaya–Trenggalek, Arena Adu Gengsi PO Bus
Pada masanya, jalur Surabaya–Trenggalek dikenal padat penumpang dan penuh persaingan.
Bus ekonomi hingga patas saling salip di lintasan Kertosono dan Pare.
Salah satu nama paling ikonik adalah Harapan Jaya, PO asal Tulungagung yang berdiri sejak 1977.
Dengan modal awal tiga unit bus, Harapan Jaya perlahan membangun dominasi dan mengakuisisi sejumlah trayek pesaing.
Selain Harapan Jaya, muncul pula PO Pangeran, yang sempat satu grup dan dikenal banter di jalur Surabaya–Trenggalek.
Pangeran bahkan menguasai beberapa trayek hasil akuisisi PO lain seperti Tirto Mulyo dan Mandala.
Lestari Grup dan Deretan PO Kuat di Jalur Selatan
Nama lain yang tak kalah terkenal adalah Lestari Grup, yang membawahi PO Surya Perdamaian, Surya Kencana, Surya Indah, hingga Sri Jaya.
Armada-armada mereka mendominasi jalur via Kertosono dengan ciri khas livery dan jadwal yang rapat.
Sementara itu, PO Hasti dikenal sebagai “raja jalanan” sebelum era Sumber Kencono.
Berbasis di Kediri, Hasti sempat berjaya bukan hanya di jalur Surabaya–Trenggalek, tetapi juga merambah Jakarta, Sumatera, hingga Bali.
Dari Hasti pula lahir merek lain seperti Jaya Raya, yang terkenal di jalur Surabaya–Solo.
Akas NR dan Era Bus Mesin Belakang
Persaingan makin sengit ketika Akas NR masuk jalur ini pada awal 1990-an.
PO asal Tapal Kuda tersebut menggebrak dengan bus ekonomi bermesin belakang, sesuatu yang tergolong mewah saat itu.
Okupansi penumpang Akas NR disebut sangat tinggi dan sempat membuat PO lokal ketar-ketir.
Selain Akas NR, jalur ini juga diramaikan PO seperti Pelita Indah, Murni Jaya, Putra Jaya, Restu, Laksana, hingga Sejahtera.
Sebagian bertahan lama, sebagian lainnya hanya seumur jagung sebelum akhirnya kolaps atau diakuisisi.
Dari Bus AKDP ke Pariwisata dan Tambang
Tak sedikit PO bus Surabaya–Trenggalek yang akhirnya beralih fokus.
Jaya Mulya, Barokah, dan beberapa PO lain memilih konsentrasi ke bus pariwisata.
Ada pula yang berganti lini usaha menjadi bengkel atau transportasi tambang, seperti PO Bagong yang kini dikenal dengan armada medium tangguh untuk jalur berat.
Bagong bahkan baru-baru ini mengakuisisi trayek Pelita Indah dan menjadi pesaing utama Harapan Jaya di jalur Surabaya–Tulungagung dan Trenggalek, baik via tol maupun jalur arteri.
Jejak Sejarah yang Tak Terlupakan
Selain nama-nama besar, tercatat pula PO lain seperti Rukun Jaya, Marem Jaya, Tirto Agung, Jaya Utama, Cendana, Kaseindo, hingga Dahlia Indah, yang dijuluki Raja Balap Jawa Timur.
Meski sebagian besar sudah tak beroperasi di jalur ini, jejak mereka tetap hidup dalam ingatan para penggemar bus.
Kisah 44 PO bus Surabaya–Trenggalek ini menjadi bukti betapa dinamisnya dunia transportasi darat Jawa Timur.
Dari persaingan sengit, inovasi armada, hingga akuisisi trayek, semuanya membentuk sejarah panjang jalur panas yang pernah berjaya.
Editor : Ingge Nayla Ayu Karina