JAKARTA – Nama Como 1907 milik keluarga Hartono kini menjadi perbincangan hangat di sepak bola Italia. Klub yang lima tahun lalu masih berkutat di Serie D dengan segudang masalah finansial, kini menjelma menjadi tim Serie A yang stabil dan berpotensi besar menjadi salah satu model bisnis sepak bola paling sukses di Eropa.
Perjalanan luar biasa Como 1907 milik keluarga Hartono dimulai pada 2019, saat Djarum Group melalui SENT Entertainment mengakuisisi klub ini dengan harga hanya sekitar 850 ribu euro atau setara Rp15 miliar. Harga tersebut terbilang murah, namun tanggung jawab yang diambil tidak kecil. Saat itu, Como mewarisi utang klub senilai 2 hingga 3 juta euro, struktur manajemen kacau, serta reputasi sebagai klub yang dua kali bangkrut.
Sejarah Kelam Como 1907
Didirikan pada 1907 dan bermarkas di tepi Danau Como, klub ini sebenarnya memiliki nilai historis dan lokasi ikonik. Namun prestasi sepak bolanya terbilang biasa saja. Bahkan pada awal 2000-an, Como mengalami kejatuhan drastis. Ironisnya, kebangkrutan pertama terjadi setelah mereka promosi ke Serie A musim 2002–2003 akibat belanja pemain yang tidak terkendali.
Setelah terdegradasi dua musim beruntun, gaji pemain tak terbayar, pajak menumpuk, dan operasional klub lumpuh. Pada 2004, Como resmi dinyatakan pailit. Klub sempat dihidupkan kembali oleh pengusaha lokal, tetapi kembali bangkrut pada 2017 dan harus memulai lagi dari Serie D dengan nama Como 1907.
Masuknya Keluarga Hartono dan Perubahan Arah
Akuisisi oleh keluarga Hartono awalnya tidak ditujukan untuk ambisi Serie A. Como direncanakan menjadi wadah proyek Garuda Select, memberikan panggung Eropa bagi pemain muda Indonesia. Namun regulasi FIGC yang ketat membuat rencana tersebut mustahil dijalankan.
Dari situ, strategi berubah. Como sempat diarahkan sebagai konten dokumenter untuk Mola TV. Namun saat promosi ke Serie B, biaya operasional melonjak tajam. Manajemen pun menyadari bahwa klub ini harus dibangun sebagai bisnis yang berkelanjutan, bukan sekadar proyek media.
Baca Juga: Lucas Cardoso ke Persib Bandung? Rumor Menguat Jelang Laga PSBS Biak
Danau Como Jadi Kunci Bisnis Klub
Keunggulan utama Como 1907 milik keluarga Hartono bukan terletak pada prestasi masa lalu, melainkan lokasi. Danau Como merupakan destinasi wisata premium Italia dengan sekitar 4,8 juta wisatawan setiap musim panas, meski penduduk kota hanya sekitar 85 ribu jiwa.
Strateginya sederhana namun visioner: bukan kota yang hidup dari klub, tetapi klub yang melengkapi brand kota. Presiden Como, Mirwan Suwarso, bahkan menyebut visinya ingin menjadikan Como seperti “Disney”. Klub sepak bola hanyalah inti dari ekosistem hiburan dan pariwisata.
Fondasi Profesional dan Moneyball
Langkah awal manajemen adalah menunjuk Dennis Wise sebagai direktur olahraga. Fokusnya membangun fondasi klub dari nol, mulai filosofi, standar, hingga struktur organisasi. Dalam perekrutan pemain, Como mengandalkan data science dan strategi moneyball.
Metode ini dinilai ideal untuk menjelaskan keputusan transfer kepada pemilik klub yang berlatar belakang bisnis, bukan sepak bola. Bahkan Billy Beane, tokoh di balik konsep moneyball, sempat dilibatkan untuk membantu penyusunan sistem.
Hasilnya nyata. Como promosi ke Serie B dalam dua tahun, lalu menembus Serie A setelah tiga musim. Transfer pemain didominasi peminjaman dan free transfer, termasuk Nico Paz yang dibeli murah dari Real Madrid Castilla dan kini bernilai berkali-kali lipat.
Dari Klub Bola ke Brand Global
Kini, fokus utama Como adalah membangun football tourism. Paket wisata dibuat agar turis tak hanya menikmati Danau Como, tetapi juga pengalaman menonton bola, tur stadion, hingga restoran dengan panorama danau. Data klub menyebut 20 persen penonton merupakan warga asing, bahkan bisa mencapai 40 persen di laga tertentu.
Di sisi lain, merchandise Como dikembangkan sebagai fashion brand. Mereka mengelola sendiri gudang, toko resmi, hingga e-commerce global. Hasilnya luar biasa: pendapatan merchandise melonjak dari 53 ribu dolar menjadi sekitar 10 juta dolar, dengan 12 persen pembeli berasal dari Amerika Serikat.
Total pendapatan klub pun melesat drastis, dari sekitar 7 juta dolar saat di Serie B menjadi hampir 100 juta dolar per musim. Como 1907 milik keluarga Hartono kini bukan sekadar klub promosi, melainkan studi kasus sukses bisnis sepak bola modern.
Editor : Natasha Eka Safrina