RADAR TULUNGAGUNG- Kontroversi wasit Hesus Gil Manzano kembali menjadi sorotan tajam publik sepak bola Spanyol. Keputusan-keputusan kontroversial sang pengadil lapangan dalam laga Barcelona kontra Real Sociedad pada lanjutan La Liga musim 2025–2026 memicu gelombang kemarahan besar, terutama dari kubu Blaugrana. Kekalahan Barcelona bukan hanya soal skor akhir, melainkan juga rasa ketidakadilan yang kembali dirasakan.
Sejak peluit panjang dibunyikan, kontroversi wasit Hesus Gil Manzano langsung mendominasi pembahasan.
Fokus utama tertuju pada pembatalan gol Lamine Yamal di babak pertama, yang dinilai terlalu kaku dalam penerapan aturan offside. Keputusan tersebut membuat Barcelona kehilangan momentum di tengah dominasi permainan yang mereka tampilkan sepanjang laga.
Gol Lamine Yamal yang Memicu Bara
Momen krusial terjadi saat Lamine Yamal berhasil membobol gawang Real Sociedad. Namun, euforia itu hanya berlangsung singkat. VAR menyatakan sang winger muda berada dalam posisi offside dengan margin yang sangat tipis.
Banyak pihak menilai garis offside yang digunakan sulit diterima secara logika permainan dan menghilangkan esensi keadilan dalam sepak bola.
Kontroversi wasit Hesus Gil Manzano pun tak terhindarkan. Tayangan ulang VAR yang beredar justru memperlihatkan posisi Yamal sejajar dengan bek lawan.
Situasi ini memicu perdebatan luas di kalangan pengamat, media, hingga pendukung Barcelona yang merasa dirugikan.
Reaksi Keras Pemain Barcelona di Media Sosial
Kemarahan Barcelona tak berhenti di lapangan. Seusai laga, respons para pemain mengalir deras melalui media sosial. Fermin Lopez menjadi salah satu yang paling vokal.
Ia mengunggah tangkapan layar keputusan VAR disertai emoji tertawa, sindiran halus yang ditafsirkan sebagai bentuk ejekan terhadap keputusan wasit.
Namun, sorotan terbesar datang dari Lamine Yamal. Pemain berusia belia itu mengunggah foto Hesus Gil Manzano yang diedit mengenakan jersey Real Madrid lengkap dengan emoji badut.
Unggahan tersebut langsung viral dan memantik perdebatan panas. Aksi itu dianggap sebagai simbol kekecewaan mendalam terhadap kepemimpinan wasit yang dinilai tidak profesional.Baca Juga: Bukayo Saka Cedera, Arsenal Mulai Goyah? Mikel Arteta Buka Suara di Tengah Jadwal Neraka Liga Inggris
Rekam Jejak Panjang yang Dipertanyakan
Reaksi emosional para pemain tidak muncul tanpa sebab. Kontroversi wasit Hesus Gil Manzano telah lama menjadi isu sensitif bagi Barcelona.
Di masa lalu, Gerard Piqué dan Lionel Messi pernah secara terbuka menunjukkan ketidakpuasan terhadap kepemimpinan Manzano. Momen penolakan berjabat tangan hingga komentar pedas Piqué masih melekat dalam ingatan publik.
Narasi kian liar ketika sebagian pendukung Barcelona mengaitkan Manzano dengan kedekatan terhadap kelompok pendukung Real Madrid. Meski klaim tersebut belum pernah terbukti, persepsi ketidaknetralan telanjur mengakar. Bagi fans Blaugrana, ini bukan lagi soal satu keputusan keliru, melainkan pola yang terus berulang.
Dominasi Tanpa Hasil dan Luka Mendalam
Dalam laga melawan Real Sociedad, Barcelona sejatinya tampil dominan. Penguasaan bola, jumlah peluang, hingga intensitas serangan menunjukkan superioritas tim tamu. Namun, sepak bola tak selalu berpihak pada tim yang mendominasi. Satu peluang Sociedad berbuah gol, sementara Barcelona gagal memaksimalkan banyak kesempatan.
Kekalahan ini terasa semakin menyakitkan karena hadir di tengah catatan positif Barcelona sebelumnya. Sebelas laga tanpa kekalahan akhirnya ternoda, dan kontroversi wasit Hesus Gil Manzano menjadi titik api yang menyulut emosi kolektif.
Bab Baru Hubungan Panas Barcelona dan Wasit La Liga
Laga kontra Real Sociedad akhirnya menjadi lebih dari sekadar pertandingan liga. Ia menjelma menjadi simbol akumulasi kekecewaan, ketidakpercayaan, dan kemarahan yang telah lama terpendam. Kontroversi ini menambah daftar panjang hubungan panas Barcelona dengan kepemimpinan wasit di La Liga.
Barcelona boleh kalah di papan skor, tetapi polemik yang tersisa jauh lebih besar. Selama isu konsistensi dan keadilan wasit belum terjawab, cerita serupa tampaknya akan terus berulang dan semakin sulit diabaikan oleh publik sepak bola Spanyol.
Editor : Kirana Meigita Luciana Rani