Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Kisah Casey Stoner Pensiun di Usia 27 Tahun, Juara Dunia MotoGP yang Tinggalkan Balap Saat di Puncak Karier

Auliya Nur'Aini Khafadzoh • Selasa, 3 Maret 2026 | 20:05 WIB

Casey Stoner pensiun di usia 27 tahun saat puncak karier MotoGP. Inilah kisah juara dunia yang meninggalkan balap demi keluarga.(Pinterest)
Casey Stoner pensiun di usia 27 tahun saat puncak karier MotoGP. Inilah kisah juara dunia yang meninggalkan balap demi keluarga.(Pinterest)

Radar Tulungagung - Casey Stoner pensiun di usia 27 tahun menjadi salah satu keputusan paling mengejutkan dalam sejarah MotoGP. Saat berada di puncak karier dengan gelar juara dunia dan puluhan kemenangan, pembalap asal Australia tersebut memilih meninggalkan dunia balap demi kesehatan dan keluarganya.

Keputusan Casey Stoner pensiun di usia 27 tahun diumumkan pada Mei 2012 menjelang seri MotoGP Prancis. Saat itu Stoner masih tampil kompetitif dan dianggap sebagai salah satu pembalap terbaik di dunia.

Kisah Casey Stoner pensiun di usia 27 tahun tidak hanya mencerminkan keberanian mengambil keputusan besar, tetapi juga perjalanan luar biasa seorang pembalap yang berhasil menjadi legenda MotoGP dalam waktu singkat.

Awal Karier Sejak Usia Dini

Casey Joel Stoner lahir di Southport, Queensland, Australia pada 16 Oktober 1985. Bakat balapnya sudah terlihat sejak usia empat tahun ketika ia mulai mengendarai motor mini di halaman rumahnya.

Untuk mengejar karier profesional, keluarganya bahkan pindah ke Inggris saat Stoner berusia 14 tahun. Keputusan besar tersebut menjadi langkah penting dalam perjalanan kariernya menuju balap motor dunia.

Namanya mulai dikenal setelah tampil sebagai pembalap wildcard di kelas 125cc pada 2001. Dua tahun kemudian ia menjalani musim penuh dan berhasil meraih dua kemenangan serta sepuluh podium.

Pada 2005, Stoner naik ke kelas 250cc dan langsung tampil impresif dengan lima kemenangan dan sepuluh podium. Ia mengakhiri musim sebagai runner-up dan mulai dianggap sebagai calon bintang besar MotoGP.

Menjinakkan Ducati dan Juara Dunia 2007

Stoner naik ke kelas MotoGP pada 2006 bersama tim LCR Honda. Meski menggunakan motor satelit, ia mampu menunjukkan performa kompetitif dan menarik perhatian tim pabrikan Ducati.

Musim 2007 menjadi titik balik kariernya setelah bergabung dengan Ducati. Saat itu motor Ducati dikenal sangat cepat di lintasan lurus tetapi sulit dikendalikan di tikungan.

Namun Stoner justru mampu menjinakkan motor tersebut dengan teknik balap khasnya. Ia meraih 10 kemenangan dalam satu musim dan mengunci gelar juara dunia MotoGP pada usia 21 tahun.

Keberhasilan tersebut menjadikannya satu-satunya pembalap yang mampu membawa Ducati meraih gelar juara dunia MotoGP dalam waktu lama.

Selain itu, Stoner juga mencatat dominasi luar biasa di Sirkuit Phillip Island. Ia memenangkan balapan di sirkuit tersebut enam kali berturut-turut dari 2007 hingga 2012.

Masalah Kesehatan dan Tekanan Karier

Meski sukses besar, perjalanan karier Stoner tidak selalu berjalan mulus. Pada 2009 ia mengalami penurunan performa yang cukup drastis.

Setelah menjalani pemeriksaan medis, Stoner didiagnosis menderita chronic fatigue syndrome atau sindrom kelelahan kronis. Kondisi tersebut menyebabkan tubuhnya mudah lelah dan memengaruhi performa balapnya.

Meski demikian, Stoner berhasil bangkit dan kembali tampil kompetitif pada musim berikutnya.

Juara Dunia Bersama Honda

Pada 2011 Stoner bergabung dengan tim Repsol Honda. Keputusan tersebut terbukti tepat karena ia kembali meraih gelar juara dunia MotoGP.

Stoner memenangkan 10 dari 17 balapan musim tersebut dan memastikan gelar juara dunia keduanya di depan publik sendiri di Phillip Island.

Prestasi tersebut membuatnya masuk dalam daftar pembalap elite yang mampu meraih gelar juara dunia bersama dua pabrikan berbeda.

Keputusan Pensiun yang Mengejutkan

Meski masih berada di puncak performa, Stoner memutuskan pensiun setelah musim 2012 berakhir. Ia mengaku tidak lagi menikmati balapan seperti sebelumnya.

Tekanan kompetisi, jadwal yang padat, serta masalah kesehatan menjadi alasan utama di balik keputusannya tersebut.

Selain itu, kelahiran putri pertamanya pada 2012 membuat Stoner ingin lebih banyak menghabiskan waktu bersama keluarga.

Sepanjang kariernya di kelas MotoGP, Stoner mencatatkan 38 kemenangan, 69 podium, dan 39 pole position dari 115 balapan.

Baca Juga: Sejarah MotoGP dari Awal hingga Sekarang: Dari Balapan Isle of Man TT sampai Rivalitas Rossi dan Marquez

Warisan Sang Legenda

Setelah pensiun, Stoner tetap terlibat di dunia MotoGP sebagai test rider untuk Honda dan Ducati. Pengalamannya membantu pengembangan motor balap kedua pabrikan tersebut.

Hingga kini Casey Stoner dikenang sebagai salah satu pembalap paling berbakat dalam sejarah MotoGP. Ia tidak hanya dikenal karena kecepatannya, tetapi juga keberaniannya meninggalkan balap saat berada di puncak karier.

Keputusan Casey Stoner pensiun di usia 27 tahun menjadi bukti bahwa kesuksesan tidak selalu diukur dari lamanya karier, tetapi juga dari keberanian menentukan jalan hidup sendiri.

Editor : Auliya Nur'Aini Khafadzoh
#casey stoner #juara dunia #motogp