Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Berikut Makna dari Tari Bedhaya Ambadya Tirta yang Ditarikan di Pendapa Agung Pantai Popoh Tulungagung

Dharaka R. Perdana • Senin, 16 September 2024 | 08:40 WIB

 

GEMULAI: Tujuh penari membawakan tari Bedhaya Ambadya Tirta yang mempunyai filosofi mengenai air.
GEMULAI: Tujuh penari membawakan tari Bedhaya Ambadya Tirta yang mempunyai filosofi mengenai air.

TULUNGAGUNG - Berbagai seniman dengan beragam latar belakang mengikuti pameran Kalajala sejak 1 September silam. Bahkant agenda ini juga menarik perhatian seniman dari luar Tulungagung untuk ikut berpartisipasi.Tentunya ini semakin menarik untuk disimak para pecinta seni budaya.

Koordinator Gulung Tukar Benny Widyo mengatakan, pada pameran tahun ini memang cukup banyak agenda yang dilakukan. Bahkan kesenian yang ditampilkan pun mencakup kesenian tradisional hingga modern.

Tentunya ini disokong banyak seniman secara kolektif. “Banyak yang ikut dalam agenda kali ini, bahkan seniman dari luar daerah pun ikut berpartisipasi,” jelasnya.

Benny melanjutkan, tema yang diangkat tahun ini pun kelanjutan dari tahun lalu. Jika 2023 membahas tentang sejarah Tulungagung, kemudian mereka memikirkan keterkaitan dengan rawa, banjir, dan lain sebagainya.

Hingga akhirnya mulai memikirkan buat sebuah program yang akan mulai fokus ke pembahasan tentang air. “Kemudian terpikirlah nama Kalajala dari Bahasa Sanskerta. Kala berartiwaktu dan jala itu air,” tambahnya.

Salah satu yang dipamerkan adalah tari Bedhaya Ambadya Tirta yang diciptakan Anugrah Natalin Nilawati. Menurut sang koreografer, pembuatan tari Bedhaya Ambadya Tirta ini mengambil dari filosofi air yang memiliki sifat mengalir dari hulu ke hilir.

Ini mengajarkan kita untuk selalu rendah hati kemudian mengisi setiap ruang kosong. Sehingga, sebisa mungkin mengisi diri kita dengan hal-hal kebaikan yang bermanfaat untuk orang lain atau urip iku urup.

“Filosofinya adalah supaya kita ini ingat tujuan kita nanti selain di dunia ini ke mana. Tentunya kita akan kembali ke Sang Khaliq,” jelasnya.

Tarian ini sendiri dibawakan tujuh penari. Ini merupakan simbolisasi tujuh bidadari yang menari mengalir bagaikan air yang tenang, terkendali, tertata, dan semeleh.

Tujuh bidadari di sini itu merupakan simbol dalam ajaran teologi dan sufisme. “Atau kita sebut teosofi yang berisi tujuh sendi kehidupan manusia yaitu bentuk, hakikat, hidup, ruh, sifat kehewanan pada manusia, sifat kemanusiaan, akal, dan juga hati nurani,” tambahnya.

Natalin melanjutkan, dalam proses membawakan tarian ini tentu ada tantangan tersendiri. Yakni menyeragamkan sikap tubuh penari karena masing-masing penari itu memiliki memori ketubuhan yang berbeda. Apalagi Bedhaya AmbadyaTirta ini mengambil unsur gerak tari gagrak Surakarta.

"Bagi yang belum pernah menarikan tari gaya Surakarta nanti akan sedikit kesulitan untuk penyesuaiannya Jadi harus ada proses proses yang harus dilalui. Penyeragaman gerak kemudian olah rasa juga harmonisasi antar penari,” tuturnya. 

Editor : Dharaka R. Perdana
#tari #gulung tukar #bedhaya ambadya tirta #tarian