Radar Tulungagung - Siswa Sekolah Dasar (SD) asal Desa Ketanon, Kecamatan Kedungwaru, Tulungagung meninggal akibat menderita dengue syock syndrom (DSS) dari demam berdarah dengue (DBD).
Mendapati hal tersebut, Dinas Kesehatan (Dinkes) Tulungagung langsung melakukan penyelidikan epidemologi (PE) atas kasus meninggalnya siswa SD tersebut.
Koordinator Program Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tular Vektor dan Zoonosis (P2PTVZ), Dinkes Tulungagung, Nurul Kusumaningrum mengatakan, pelaksanaan PE ini dilakukan guna mengetahui kronologi atas kasus penyakit DBD tersebut.
Dengan pelaksanaan PE ini agar dapat mengetehui penyebaran penyakit DBD di Desa Ketanon. Pasalnya sempat terdapat kasus meninggalnya siswa SD akibat terserang penyakit menular tersebut.
Diketahui pelaksanaan PE ini dilakukan pada tiga titik berbeda di Desa Ketanon, yakni mulai dari RS tempat korban dirawat, rumah korban, hingga tempat korban belajar.
"Kami melakukan penyelidikan di RS swasta tempat korban dirawat dengan melakukan klarifikasi, ternyata korban dirawat pada Senin (17/2/2025) dan terdeteksi terkena DBD," jelasnya kemarin (19/02).
Sebelum pelaksanaan PE di rumah korban, korban sempat dilaporkan mengalami demam oleh pihak sekolah pada Senin (10/02).
Mendapati hal itu, korban hanya dilakukan perawatan di rumah dengan dibelikan obat dari apotek. Sebab, keluarga korban hanya mengira korban menderita penyakit demam biasa.
Tak hanya itu, pihaknya juga melakukan pemeriksaan guna mencari vektor penyebab dari DBD di sekitar rumah dan sekolah korban. Dimana radius pemeriksaan dilakukan sejauh 100 meter.
Hasilnya, baik di rumah maupun di sekolah korban, petugas mendapati adanya jentik nyamuk aedes aegypti.
"Di lingkungan rumah korban mulai dari pekarangan, rumah tetangga bahkan di area rumah korban seperti kamar mandi, kami temukan adanya vektor itu yakni jentik maupun nyamuk aedes aegypti itu sendiri," ucapnya.
Berdasarkan temuan vektor tersebut, lantas pihaknya melakukan pengendalian vektor di dua tempat yakni di rumah dan sekolah korban dengan memberikan obat abate untuk membunuh jentik.
Selain itu, pihaknya juga akan menjadwalkan untuk dilakukan fogging di lingkungan rumah dan sekolah korban.
Berdasarkan data, kasus DBD di Tulungagung pada bulan Februari 2025 ini sudah menyentuh angka 54 kasus, dimana terdapat satu korban jiwa akibat DSS.
Pihaknya pun kembali mengingatkan masyarakat Tulungagung untuk rutin melakukan PSN, untuk memastikan tidak adanya nyamuk yang berkembang biak.
"Tidak hanya penanganan DBD, malaria maupun chikungunya atau penyakit apapun yang bersumber dari nyamuk, hanya bisa dicegah melalui PSN. Bahkan fogging pun tidak akan berguna jika tidak didahului dengan PSN," pungkasnya.(ziz)
Editor : Matlaul Ngainul Aziz