Radar Tulungagung – Sebagai bentuk syukur masyarakat, upacara adat Ulur-Ulur digelar pada Jumat (9/5) pagi.
Di kesempatan ini, pimpinan daerah juga menekankan pentingnya menjaga warisan budaya leluluh dalam acara yang digelar di Telaga Buret, Desa Sawo, Kecamatan Campurdarat, ini.
Bupati Tulungagung, Gatut Sunu Wibowo mengatakan bahwa upacara adat Ulur-Ulur merupakan bentuk syukur masyarakat atas berkah Tuhan yang melimpah.
“Sebagai ungkapan rasa syukur atas nikmat dan karunia Tuhan Semesta Alam yang dilimpahkan kepada kita berupa air mengalir tiada henti dari Telaga Buret yang membawa manfaat bagi lahan-lahan pertanian masyarakat,” ujarnya.
Dia menambahkan, upacara adat Ulur-Ulur merupakan kearifan lokal yang harus dijaga dan dilestarikan oleh masyarakat Tulungagung secara umum.
Terlebih, Ulur-Ulur kini juga tercatat sebagai kekayaan asli daerah Tulungagung yang tak dimiliki oleh daerah lain.
“Dan kegiatan tradisi ini sudah ditetapkan menjadi warisan budaya tak benda atau WBTB pada Tahun 2020 lalu. Maka Pemerintah Kabupaten Tulungagung akan senantiasa mendukung terselenggaranya kegiatan ini, baik secara materiil maupun moril,” tegasnya.
Mengingat banyaknya pihak yang dilibatkan di acara ini, Gatut kembali mengingatkan soal pentingnya menjaga sikap dan sifat gotong royong dan menjaga kerukunan antarsesama.
“Tak lupa saya sampaikan terima kasih yang tak terhingga kepada seluruh panitia dan pihak-pihak yang terlibat dalam kegiatan ini, semoga kedepan akan lebih baik dan rasa gotong royong kebersamaan ini tetap terjaga sampai generasi–generasi penerusnya,” ucapnya.
Editor : Aditya Yuda Setya Putra