Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Menelusuri Jejak Sejarah Telaga Ngembel, Permata Tersembunyi di Desa Ngentrong Tulungagung

Rinto Wahyu Hidayat • Sabtu, 10 Mei 2025 | 05:53 WIB

Jejak sejarah Telaga Ngembel di Desa Ngentrong Tulungagung
Jejak sejarah Telaga Ngembel di Desa Ngentrong Tulungagung
Radar Tulungagung - Telaga Ngembel, yang terletak di Desa Ngentrong, Kecamatan Campurdarat, Kabupaten Tulungagung, bukan sekadar genangan air biasa.

Ia adalah saksi bisu perjalanan sejarah panjang masyarakat setempat, sekaligus menyimpan jejak yang terhubung erat dengan warisan budaya dan spiritual Tulungagung.

Meski belum sepopuler Telaga Mburet di Desa sawo, keberadaan Telaga Ngembel memiliki bobot sejarah yang tak kalah penting.

Menurut cerita turun-temurun, nama "Ngembel" berasal dari bahasa Jawa yang menggambarkan permukaan air yang selalu beriak.

Riak-riak tersebut diyakini sebagai simbol dari kekuatan alam dan energi gaib yang melingkupi tempat tersebut.

Dalam cerita sejarah yang diwariskan dari generasi ke generasi, telaga ini dahulu dijadikan tempat pertapaan oleh para leluhur dan tokoh spiritual yang mencari pencerahan serta petunjuk batin.

Sumarji, sesepuh Desa Ngentrong yang telah lama menjadi penjaga tradisi dan sejarah lokal, menuturkan bahwa Telaga Ngembel memiliki kaitan erat dengan salah satu pusaka penting Kabupaten Tulungagung: Tombak Kiai Upas.

“Menurut cerita leluhur kami, sebelum Tombak Kiai Upas dijadikan junjungan dan simbol kebesaran Tulungagung, dahulu pernah disucikan di Telaga Ngembel. Tempat ini dipercaya memiliki aura kuat yang cocok untuk prosesi pensucian benda-benda bertuah,” ungkap Sumarji dengan penuh keyakinan.

Tombak Kiai Upas sendiri adalah salah satu pusaka sakral yang dibawa dalam prosesi adat tahunan "Ulur-Ulur", sebuah upacara tradisional yang digelar di Telaga Mburet.

Namun, hingga kini, Telaga Ngembel belum pernah dilibatkan secara resmi dalam rangkaian kegiatan adat tersebut, meski sejarah menunjukkan adanya keterkaitan kuat antara telaga ini dan pusaka tersebut.

Samuji, Kepala Desa Ngentrong, menyampaikan harapannya agar pemerintah Kabupaten Tulungagung memberikan perhatian yang lebih adil.

“Sudah waktunya Telaga Ngembel mendapatkan perlakuan yang setara dengan Telaga Mburet. Jika benar Telaga ini pernah menjadi bagian dari sejarah pensucian Tombak Kiai Upas, maka secara kultural, ia layak mendapat tempat dalam setiap kegiatan adat yang berkaitan,” ujarnya.

Ia juga menambahkan bahwa pihak desa siap bekerja sama dan mengembangkan potensi wisata sejarah serta spiritual Telaga Ngembel.

“Kami tidak hanya menginginkan pengakuan, tapi juga bantuan nyata. Perbaikan infrastruktur, pengembangan kawasan wisata, dan keterlibatan dalam agenda budaya kabupaten adalah bentuk keadilan yang kami harapkan,” tegas Samuji.

Saat ini, Telaga Ngembel masih menjadi sumber air utama bagi masyarakat sekitar dan dijaga kelestariannya secara swadaya oleh warga.

Namun, potensi besar yang dimilikinya belum tergarap maksimal karena keterbatasan akses, promosi, dan dukungan dari pihak terkait.

Dengan sejarah yang kuat, nilai spiritual yang dalam, serta kisah yang terhubung langsung dengan pusaka kebesaran daerah, Telaga Ngembel layak mendapatkan panggung yang lebih luas.

Lebih dari sekadar destinasi wisata budaya, ia adalah situs budaya yang menunggu untuk diangkat, dihormati, dan dirawat bersama.(rin)

Editor : Matlaul Ngainul Aziz
#tulungagung #Telaga ngembel #sejarah #Ngentrong #campurdarat