TULUNGAGUNG - Peringatan Hari Bhayangkara ke-79 yang jatuh pada 1 Juli menjadi momen reflektif bagi institusi Kepolisian Republik Indonesia (Polri), termasuk di jajaran Polres Tulungagung.
Kapolres Tulungagung, AKBP Muhammad Taat Resdi menegaskan, Hari Bhayangkara bukanlah hari ulang tahun Polri, melainkan penanda perubahan fundamental dalam sejarah kepolisian Indonesia.
Polres Tulungagung berkomitmen untuk menjadikan momentum ini sebagai penanda untuk terus berbenah menjadi lebih baik sesuai harapan masyarakat.
“Banyak yang masih salah kaprah, bahkan di internal kami sendiri,” katanya.
Menurut dia, Hari Bhayangkara bukan hari lahir Polri atau hari ulang tahun Polri. Tapi hari itu menandai momen pada 1 Juli 1946, ketika Polri menjadi satu kesatuan nasional yang berada langsung di bawah kepala pemerintahan, yang kala itu dijabat oleh Perdana Menteri.
Dia menjelaskan, penguatan struktur Polri sebagai institusi nasional di bawah presiden kala itu membawa harapan besar, yakni terciptanya kepolisian yang profesional.
“Isu profesionalisme sudah menjadi harapan sejak awal, dan kini tetap menjadi PR kami, termasuk di Polres Tulungagung,” ujarnya.
Dia menjelaskan, tantangan di wilayah Tulungagung cukup kompleks. Mulai dari dinamika keamanan dan ketertiban masyarakat (kamtibmas), persoalan lalu lintas, aktivitas perguruan silat, hingga penegakan hukum dalam berbagai perkara.
“Momentum Hari Bhayangkara ini menjadi refleksi bagi kami untuk terus memperbaiki diri. Kami sadar, banyak kekurangan dan PR yang harus dituntaskan. Kami mohon doa restu dari masyarakat agar kami bisa terus meningkatkan kualitas pelayanan,” katanya.
Terkait usia Polri telah mencapai 79 tahun, dia menyebutnya sebagai usia matang. Wajah Polri yang modern baru benar-benar dibentuk pasca-reformasi, sekitar 25 tahun lalu.
“Kalau kita hitung sejak era reformasi, usia Polri yang mandiri dan modern baru 25 tahun. Tapi capaian hingga saat ini cukup signifikan. Tentu masih banyak yang harus dibenahi, dan kami terus berupaya melakukan perbaikan secara bertahap,” jelasnya.
Dia menyampaikan, suara dan harapan masyarakat menjadi bahan evaluasi penting. Sebab kerap menerima keluhan, baik secara langsung maupun lewat media sosial. Itu menjadi dasar untuk terus meningkatkan pelayanan.
“Harapan masyarakat sangat besar. Kami tidak bisa mengubah semuanya dalam sekejap, tapi kami berkomitmen untuk terus berbenah, agar setiap langkah kami selalu lebih baik dari sebelumnya,” pungkasnya. (sri/din)
Editor : Didin Cahya Firmansyah