TULUNGAGUNG - Menjelang subuh, ketika kebanyakan orang masih terlelap, suasana di pasar-pasar pagi Tulungagung justru sudah ramai.
Lampu-lampu seadanya menerangi lapak-lapak sederhana, aroma sayur segar, kembang kantil, dan gorengan hangat bercampur jadi satumenyambut hari baru dengan cara yang khas dan penuh kehidupan di Tulungagung.
Yang bikin pasar pagi di Tulungagung beda dari tempat lain bukan cuma jenis dagangannya, tapi juga kebiasaan unik para penjual dan pembelinya.
Misalnya, ibu-ibu yang berbelanja sambil teriak menawar dari jarak jauh, seolah sedang adu volume, bukan adu harga.
Belum lagi aksi penjual sayur yang hafal semua langganannya, sampai tahu siapa yang biasanya beli tempe dua potong atau minta bonus cabe rawit.
Dagangan yang dijajakan pun punya cita rasa lokal yang kental.
Mulai dari pecel pincuk dengan sambal kacang yang kental, jajan pasar seperti kue thok dan putu ayu, sampai bunga-bunga untuk keperluan hajatan atau ziarah.
Bahkan ada penjual jamu gendong yang masih keliling sambil menyebutkan ramuan andalannya dengan irama khas.
Interaksi di pasar pagi ini seringkali mengundang tawa. Ada pembeli yang pura-pura pergi saat tawarannya ditolak, lalu balik lagi lima menit kemudian sambil cengar-cengir.
Ada juga penjual yang sambil nimbang sayur, bisa sekaligus ngobrol soal gosip kampung, resep masakan, hingga curhat soal anaknya yang baru lulus sekolah.
Pasar pagi di Tulungagung bukan sekadar tempat belanja ia adalah ruang sosial yang hidup, penuh warna, dan jadi denyut awal kehidupan kota kecil ini.
Sebuah pemandangan yang mungkin sederhana, tapi mengandung kehangatan yang tak tergantikan. (*)
Editor : Didin Cahya Firmansyah