RADAR TULUNGAGUNG – Malam ini, Minggu (7/9), langit Tulungagung akan dihiasi oleh fenomena alam langka yang menyuguhkan atraksi dan pertunjukan asli dari alam semesta yaitu gerhana bulan total atau yang dikenal juga sebagai “blood moon”.
Gerhana bulan total diperkirakan berlangsung mulai pukul 22.28 WIB dan mencapai puncaknya sekitar pukul 01.11 WIB, Senin (8/9) dini hari.
Meski penjelasan ilmiah sudah banyak diketahui masyarakat, namun warisan budaya tetap tumbuh dimasyarakat Jawa, tidak terkecuali di Tulungagung.
Sebagian warga Tulungagung juga masih menjaga tradisi dan mitos Jawa yang telah diwariskan secara turun-temurun.
Baca Juga: Gerhana Bulan Total Sarat Beragam Makna Spiritual dan Mitos, Bagaimana dengan Daerahmu?
Mitosnya, dalam kepercayaan masyarakat Jawa, gerhana bulan diyakini terjadi karena Batara Kala yang merupakan sosok makhluk raksasa, sedang kelaparan dan ingin menelan bulan.
Kemudian karena dirasa tidak mampu untuk menelannya, akhirnya Batara Kala memuntahkannya kembali bulan yang sudah sempat ditelannya.
Untuk mengusir raksasa tersebut agar tidak menelan bulan, masyarakat Jawa khusudnta Tulungagung pada jaman dahulu biasa membunyikan alat-alat rumah tangga seperti lesung dan kentongan.
Tak hanya itu, masyarakat Jawa termasuk Tulungagung pada jaman dahulu juga memiliki tradisi larangan ketika terjadinya gerhana bulan.
Salah satunya mitos tentang sejumlah pantangan bagi ibu hamil. Pada kepercayaan masyarakat Jawa, pantangan bagi ibu hamil tersebut di antaranya tidak keluar rumah saat gerhana, mengoleskan abu dapur ke perut, hingga bersembunyi di bawah tempat tidur agar janin tidak terkena pengaruh buruk.
Menurut informasi dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) serta Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN), gerhana bulan total kali ini dapat disaksikan dengan mata telanjang tanpa alat bantu khusus. ****
Editor : Dharaka R. Perdana