TULUNGAGUNG – Bagi tim Anticancel 2, keikutsertaan dalam RaTu Film Festival (RFF) 2025 bukan sekadar lomba, melainkan perjalanan penuh pembelajaran, kebersamaan, dan eksplorasi kreativitas tanpa batas.
Meski bukan pertama kalinya mereka ikut ajang ini, semangat dan antusiasme tetap terasa membara sejak tahap awal produksi.
Ratna Nur Azizah, perwakilan tim Anticancel 2, menceritakan bahwa proses syuting kali ini memberi banyak pengalaman berharga.
Mereka banyak belajar tentang kesabaran dan cara bagi waktu yang tepat.
Hal menariknya adalah kebersamaan tim yang saling melengkapi.
“Ada momen jadwal kita semua tabrakan, ada cuaca yang susah, tapi kita masih bisa mengatur semuanya. Bahkan, ada scene yang awalnya kita kira gagal, malah jadi keren setelah diimprovisasi,” ujarnya.
Meski diwarnai tawa dan kekompakan, produksi film mereka bukan tanpa tantangan.
Manajemen waktu dan koordinasi menjadi ujian tersendiri.
Selain itu, menciptakan ide cerita yang menarik dan sinematografi yang kuat juga menjadi tantangan utama bagi tim ini.
“Tim kami isinya anak-anak kreatif semua, jadi idenya sahut-sahutan,” kata Ratna sambil tertawa.
Bagi mereka, tema RFF tahun ini terasa sangat relevan dan menantang.
“Temanya membuka ruang luas untuk bercerita. Kami bisa lebih bebas mengeksplorasi sisi emosional karakter dan pesan yang ingin disampaikan,” jelas Ratna.
Sebagai peserta yang rutin mengikuti RFF tiap tahun, Anticancel 2 ingin menampilkan karya yang lebih matang dibanding tahun-tahun sebelumnya.
“Tantangan terbesarnya adalah bagaimana kami bisa membuat film yang lebih fresh, dengan fokus lebih besar pada emosi karakter, bukan hanya visual. Tahun ini juga jadwal produksinya lebih padat dari biasanya,” lanjutnya.
Ratna menambahkan, RFF menjadi ajang penting bagi pelajar untuk berkarya dan bertemu para kreator hebat.
“RFF memberi banyak benefit positif bagi kami para siswa. Ini bukan cuma lomba, tapi juga kesempatan keluar dari zona nyaman,” ungkapnya.
Melalui karya mereka, Anticancel 2 ingin mengajak penonton untuk memahami bahwa setiap luka memiliki cerita dan makna tersendiri.
“Setiap tindakan seseorang pasti ada alasan di baliknya. Kami ingin mengajak penonton berani menghadapi kenyataan dan menemukan keindahan di balik proses itu,” tutup Ratna. (sri/c1/rka)
Editor : Vidya Sajar Fitri