RADAR TULUNGAGUNG - Tanpa pertanyaan di banyak tempat, akhir tahun di Tulungagung bisa terasa seperti ruang sidang.
Kita diminta menjelaskan apa yang sudah dicapai, apa yang gagal, dan rencana besar apa yang akan dilakukan setelah kalender berganti.
Ada target, ada perbandingan, ada suara-suara yang seolah berkata: “Harusnya kamu lebih jauh dari ini.”
Baca Juga: Akhir Tahun di Tulungagung, Warung Masih Jadi Tujuan Utama Warga dalam Menghabiskan Waktunya
Di sini, akhir tahun berjalan pelan. Kota tidak menanyai kita soal pencapaian. Tidak menuntut cerita besar.
Tidak meminta bukti bahwa setahun kemarin layak dibanggakan. Jalan-jalan tetap terbuka, warung kopi masih menyala, dan malam turun tanpa rasa ingin tahu yang berlebihan.
Seakan kota ini berkata datang saja, duduk sebentar, kamu tidak perlu menjelaskan apa pun.
Baca Juga: Suasana Akhir Tahun di Tulungagung Cukup Beragam, Namun Benarkah Jam untuk Tidur Lebih Menarik?
Di Tulungagung, orang-orang menutup tahun dengan cara sederhana. Ada yang pulang lebih awal. Ada yang memilih diam di rumah.
Ada yang sekadar berjalan tanpa tujuan jelas, membiarkan pikirannya lelah tanpa harus dirapikan.
Tidak ada kewajiban untuk terlihat kuat, apalagi sukses.
Baca Juga: Pantai Tulungagung di Penghujung Tahun, Ombak Terus Menggelora Setiap Waktu
Dan justru di situ rasanya paling manusiawi. Kota ini menerima kita apa adanya dalam versi paling jujur dari diri sendiri.
Yang masih bingung, yang belum selesai, yang hanya bertahan tanpa banyak cerita. Tulungagung tidak menghakimi keheningan, tidak memaksa keberanian, tidak mempersoalkan rasa takut.
Di penghujung tahun, menerima sering kali lebih penting daripada memperbaiki. Mengizinkan diri sendiri berhenti sejenak tanpa evaluasi keras.
Tidak semua luka harus sembuh sebelum tahun berganti. Tidak semua rencana harus lahir dari kegaduhan resolusi.
Tulungagung mengerti itu. Malam-malam terakhir tahun di sini tidak terasa mendesak. Waktu seperti memberi ruang untuk bernapas.
Kalender boleh hampir habis, tapi hidup tidak sedang dikejar-kejar. Esok tetap ada, meski hari ini kita memilih diam.
Mungkin itulah yang membuat akhir tahun di Tulungagung terasa hangat tanpa banyak kata. Kota ini tidak bertanya siapa kita kemarin, atau akan jadi apa besok.
Ia hanya menyediakan tempat untuk duduk, untuk tenang, untuk menjadi diri sendiri tanpa peran tambahan. Dan di akhir tahun, itu sudah lebih dari cukup. ****
Editor : Dharaka R. Perdana