RADAR TULUNGAGUNG - Di Tulungagung, akhir tahun tidak selalu terdengar. Ia tidak selalu muncul dalam kembang api, hitung mundur, atau foto-foto yang dipajang terbuka.
Pada banyak orang, akhir tahun justru disimpan rapi di dalam kepala, di dada, di sudut-sudut sunyi yang tidak perlu dijelaskan kepada siapa pun.
Baca Juga: Tulungagung Mengajarkan Bagi Warganya untuk Bertahan Sampai Akhir Tahun, Itu Saja Sudah Hebat?
Mereka tetap menjalani hari seperti biasa.Pergi bekerja, menutup warung sedikit lebih awal, menyapu halaman sebelum magrib, atau duduk di teras sambil menunggu udara malam mendingin. Tidak ada penanda khusus bahwa kalender hampir habis, selain rasa lelah yang datang pelan.
Orang-orang ini tidak sedang menolak perayaan.Mereka hanya memilih cara lain untuk menutup tahun dengan diam.
Dengan mengingat secukupnya, tanpa harus mengulang cerita yang mungkin masih berat untuk dibagikan.
Ada kegagalan yang belum ingin dibicarakan. Ada kehilangan yang belum menemukan kata. Ada harapan yang sengaja ditahan agar tidak patah terlalu cepat.
Di Tulungagung, hal seperti ini diterima tanpa pertanyaan.Kota tidak memaksa warganya untuk terlihat bahagia.
Tidak juga menuntut semua orang menuliskan resolusi atau membuat rangkuman pencapaian. Di sini, menyimpan akhir tahun di dalam diri bukan tanda kalah melainkan cara bertahan.
Beberapa orang memilih memandangi jalan yang mulai sepi. Beberapa lainnya menyiapkan minum hangat, lalu tidur lebih awal.
Mereka tahu, besok masih ada pagi. Masih ada hari biasa yang harus dijalani. Dan itu sudah cukup.
Akhir tahun memang tidak selalu butuh panggung.Bagi sebagian orang di Tulungagung, ia cukup menjadi penutup yang tenang.
Disimpan di dalam, dipeluk sebentar, lalu dilepas perlahan tanpa suara, tanpa sorak, tanpa kewajiban untuk terlihat kuat. Dan mungkin, justru dengan cara itulah, mereka benar-benar selamat sampai ke ujung tahun. ****
Editor : Dharaka R. Perdana