TULUNGAGUNG - Asal-usul Sungai Lembu Peteng Tulungagung menjadi salah satu kisah sejarah lisan yang hingga kini masih hidup di tengah masyarakat. Sungai yang mengalir deras ke arah selatan menuju Samudra Indonesia ini dipercaya sudah ada sejak zaman Kerajaan Majapahit. Nama Sungai Lembu Peteng bukan sekadar penanda geografis, melainkan terkait erat dengan kisah tragis seorang putra Majapahit yang tewas dan jasadnya dibuang ke aliran sungai tersebut.
Sungai Lembu Peteng Tulungagung terletak di bagian barat wilayah kota. Alirannya membelah kawasan pedesaan dan menjadi saksi perjalanan panjang sejarah daerah ini sejak era Majapahit hingga sekarang. Bagi warga Tulungagung, sungai ini bukan hanya sumber air, tetapi juga bagian dari identitas budaya yang diwariskan secara turun-temurun.
Dalam konteks sejarah Majapahit, wilayah selatan Sungai Brantas dikenal sulit dikendalikan oleh pusat kerajaan. Akses yang terbatas membuat hubungan antara desa-desa dan pusat pemerintahan Majapahit tidak berjalan efektif. Kondisi ini memicu pertikaian antarpeduduk hingga muncul berbagai perguruan kanuragan yang berfungsi meredam konflik sekaligus menjadi mata dan telinga kerajaan.
Perguruan Donorowo dan Kyai Pacet
Salah satu perguruan kanuragan paling berpengaruh di kawasan Campurdarat adalah Perguruan Donorowo yang didirikan Kyai Pacet. Sosok Kyai Pacet dikenal sebagai guru sakti yang disegani. Murid-muridnya berasal dari berbagai kalangan bangsawan dan tokoh penting, di antaranya Pangeran Lembu Peteng, Pangeran Kalang, Pangeran Bedalem, serta Kyai Kasan Besari.
Suatu hari, Kyai Pacet mengumpulkan seluruh muridnya untuk memberikan wejangan. Dalam pertemuan itu, ia menyampaikan bahwa akan ada murid yang mendirikan perguruan sendiri tanpa izin guru. Ucapan tersebut membuat Kyai Kasan Besari yang dikenal keras kepala merasa tersinggung. Ia tidak mampu mengendalikan emosinya dan meninggalkan pertemuan tanpa pamit.
Pengkhianatan Murid dan Rencana Pembunuhan
Melihat kepergian Kyai Kasan Besari, Kyai Pacet memerintahkan Pangeran Kalang dan Pangeran Bedalem untuk mengejar dan menyadarkannya. Namun dalam perjalanan, keduanya justru bersekongkol dengan Kyai Kasan Besari. Ketiganya menyusun rencana untuk membunuh Kyai Pacet, sang guru yang telah membesarkan mereka.
Merasa situasi semakin genting, Kyai Pacet meminta murid-murid lain tetap melanjutkan belajar, sementara dirinya memilih bersemedi di sebuah gua. Tugas menjaga dan mengawasi sekitar gua dipercayakan kepada Pangeran Lembu Peteng, murid yang dikenal paling setia dan patuh pada gurunya.
Peperangan Besar di Sekitar Goa
Rencana pembunuhan pun dijalankan. Kyai Kasan Besari dan Pangeran Bedalem mendatangi gua tempat Kyai Pacet bertapa. Namun upaya itu terhalang oleh Pangeran Lembu Peteng. Bentrokan besar tak terelakkan. Dengan bantuan para prajurit yang setia, Pangeran Lembu Peteng berhasil memukul mundur para pemberontak.
Dalam pertempuran tersebut, Kyai Kasan Besari melarikan diri ke wilayah Ringinpitu, sementara Pangeran Kalang kabur ke Kadipaten Betak. Kemenangan Pangeran Lembu Peteng menjadi bukti kesetiaannya kepada sang guru, meski konflik ini belum benar-benar berakhir.
Baca Juga: Suku Wajak Disebut Suku Tertua di Indonesia, Berasal dari Tulungagung Jawa Timur
Asal Nama Sungai Lembu Peteng
Konflik panjang yang melibatkan Kyai Pacet dan para muridnya terus berlanjut hingga akhirnya Pangeran Lembu Peteng gugur. Dalam kisah babad Tulungagung, disebutkan bahwa jasad Pangeran Lembu Peteng dibuang ke sebuah sungai yang mengalir ke selatan. Sejak saat itu, sungai tersebut dikenal dengan nama Sungai Lembu Peteng Tulungagung.
Hingga kini, Sungai Lembu Peteng tetap mengalir dan menjadi saksi bisu perjalanan sejarah daerah. Legenda ini dipercaya masyarakat sebagai pengingat nilai kesetiaan, pengkhianatan, serta konsekuensi dari ambisi dan kemarahan yang tak terkendali.
Kisah asal-usul Sungai Lembu Peteng bukan sekadar dongeng masa lalu, melainkan bagian penting dari babad Tulungagung yang memperkaya khazanah sejarah dan budaya Jawa Timur.
Editor : Natasha Eka Safrina