Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Cerita Etek Sayur Keliling Tulungagung, Berangkat Jam 3 Pagi demi Dapur Tetap Ngebul

M. Abdul Hamid • Senin, 26 Januari 2026 | 13:59 WIB

 

Seorang pedagang sayur keliling usai kulakan di Pasar Ngemplak.(ABDUL HAMID/RADAR TULUNGAGUNG)
Seorang pedagang sayur keliling usai kulakan di Pasar Ngemplak.(ABDUL HAMID/RADAR TULUNGAGUNG)

RADAR TULUNGAGUNG - Namanya pedagang tentu beragam jenisnya. Salah satunya pedagang sayur keliling alias etek yang masih eksis hingga saat ini di Tulungagung. Berikut kisah mereka.

Ketika sebagian besar warga masih terlelap di balik selimut, Pasar Ngemplak justru telah lebih dulu menggeliat.

Gelap belum sepenuhnya minggir. Udara dini hari menusuk kulit. Lampu-lampu pasar menyala redup seolah enggan mengusir malam.

Di waktu sunyi seperti inilah para penjual sayur keliling yang akrab disebut etek atau mlijo memulai hari, jauh sebelum matahari terbit.

Kasri adalah salah satunya. Bukan pedagang pasar yang menetap di satu lapak, melainkan etek yang hidupnya selalu bergerak.

Sejak 2010, dia menekuni pekerjaan ini. Setiap hari, hampir tanpa jeda, Kasri berangkat ke pasar saat sebagian orang masih tertidur pulas.

“Berangkatnya ya jam segini. Pukul 03.00, paling telat 04.00 sudah sampai pasar,” ujarnya lirih, sembari menata ikatan sayur yang baru saja dibelinya.

Pukul 03.00 hingga 04.00 dini hari menjadi jam biologis Kasri. Di Pasar Ngemplak, dia memilih sayur, menimbang, menghitung modal, lalu mengikat dagangan yang kelak dipanggul berkeliling kampung.

Semua dilakukan dalam senyap, ditemani suara langkah pedagang lain dan denting timbangan.

Sekitar pukul 7 pagi, Kasri sudah mulai menyusuri gang-gang perkampungan. Saat banyak orang baru menyiapkan sarapan, dia telah lebih dulu menyapa para pelanggan setianya.

“Kalau kesiangan, nanti pembeli masaknya telat. Jadi memang harus pagi,” katanya.

Usia tak lagi muda. Tubuhnya tak sekuat dulu. Pegal dan linu kerap menjadi teman perjalanan.

Namun, Kasri jarang mengeluh. Senyum tipis lebih sering muncul ketimbang keluhan.

“Capek pasti. Badan sering sakit-sakit. Tapi mau bagaimana lagi, ini sudah pekerjaan,” ucapnya singkat, lalu kembali melangkah.

Perjuangan serupa dijalani Hadi Santoso. Pemuda 31 tahun asal Desa/Kecamatan Sendang ini juga mengais rezeki sebagai etek.

Setiap dini hari, Hadi sudah tiba di Pasar Ngemplak untuk kulakan. Setelah semuanya siap, pukul 06.00, dia mulai berkeliling menjual sayur di wilayah desanya.

“Pelanggan kebanyakan ibu-ibu. Jadi harus pagi,” tuturnya.

Hadi mulai menekuni profesi ini pada 2019, setahun sebelum pandemi Covid-19. Dengan modal awal sekitar Rp 1,5 juta, dia memberanikan diri bertahan di jalanan.

Jika dagangan sedang ramai, omzetnya bisa mencapai Rp 1,7 juta. Keuntungan bersih sekitar Rp 200 ribu.

“Tidak besar, tapi cukup buat makan dan kebutuhan rumah,” katanya jujur.

Namun, hidup sebagai etek bukan tanpa masalah. Hadi kerap dihadapkan pada pembeli yang berutang dan tak kunjung melunasi.

“Kadang ada yang utang, ditagihnya susah,” keluhnya pelan. (*/c1/rka)

Editor : Vidya Sajar Fitri
#pasar ngemplak #Kulakan #Mlijo #pedagang pasar #Pedagang sayur